Berikut 3 Faktor Teknis Umum Mengapa Perhitungan Drainase pada Sistem yang Kompleks Direkomendasikan Menggunakan Rain on Grid?

 Rain on Grid masih menjadi perdebatan bahkan beberapa komentar yang masuk cukup tajam yang secara tidak langsung menyindir drainage engineer dan bagaimana peraturan yang berlaku yang perlu dilakukan update. beberapa masih bertahan dengan "jika dengan cara biasa sudah cukup bisa mewakili dan diterima oleh owner, mengapa tidak?". tentu saja aku disini hanya menulis berdasarkan perkembangan dan permasalahan yang aku terima di lapangan sehingga semuanya bebas berdiskusi, masalah peraturan aku kembalikan kepada pemerintah yang berwenang dan masalah bagaimana model diterima atau tidak tentu saja tergantung pada masing - masing owner.

secara keseluruhan aku memberikan akses diskusi yang luas sebagai bentuk kepedulianku terhadap perkembangan dunia konstruksi di Indonesia dan tulisan ini merupakan salah satunya sehingga aku tidak akan mengklarifikasi apapun terhadap persilangan pendapat yang ada. Nah babak terakhir yang aku bahas kali ini adalah studi kasus mengapa rain on grid pada HEC RAS menjadi sebuah pilihan yang baik sebagai pemodelan. 

beberapa alasan teknis utama adalah:

1. Kendala Penentuan Daerah Tangkapan Akibat Galian dan Timbunan

Penentuan daerah tangkapan adalah faktor penting yang perlu untuk dilakukan dalam perhitungan drainase karena seberapa luas rencana air yang jatuh dan masuk ke dalam drainase akan menentukan seberapa besar drainase tersebut. hal ini seringkali menjadi kendala karena pada dasarnya drainase terkadang tidak hanya menangkap air yang jatuh tepat di saluran, namun terkadang pada beberapa area sekitar saluran juga menjadi daerah tangkapannya. hal ini sebenarnya cukup simpel namun akan sangat susah untuk areal yang beragam. aku akan memberikan 2 gambar potongan jalan sebagai berikut:

Model 1, pada Bagian Kiri Jalan Datar

seperti yang tergambar diatas bahwa pada bagian kiri relatif datar sehingga ketika hujan, maka hanya sebagian yang masuk ke dalam drainase sesuai dengan kemiringan lereng pada bagian kiri. aku beri tanda sebagai catchment 1 dengan panjang yang relatif pendek. 

Model 2, pada Bagian Kiri terdapat Tebing

pada model 2 yang tergambar diatas pada sebelah kiri terdapat tebing yang kemudian ketika hujan, maka air yang jatuh ke tebing akan terkumpul pada drainase, pada kondisi ini catchment 1 akan lebih panjang pada model 2 daripada model 1. sehingga drainage engineer perlu untuk memperhitungkan luas daerah tangkapan. jujur saja poin ini sangat susah karena pada umumnya daerah tangkapan sangat erat hubungannya dengan kemiringan lereng. Namun perubahan akibat galian timbunan juga mempengaruhi luasan catchment Area khususnya seperti kasus model 1 dan model 2 yang memiliki daerah tangkapan yang berbeda. 

output dari kedua model tersebut jelas berbeda. areal pada model 2 akan lebih besar sehingga dimensi untuk drainase pada model 2 akan lebih besar pula. sekarang jika kita mencoba menghitung pada rumus standar metode rasional untuk menentukan besaran debit pada bagian (Q=CIA) A sebagai luas catchment akan bervariasi untuk setiap segmen. perhitungan manual memang bisa dilakukan namun dengan banyaknya parameter A yang memiliki variasi, maka pemodelan tersebut akan memakan waktu yang cukup lama dan ketelitian yang relatif kurang.

2. Kendala Debit yang Terkumpul pada Skema Drainase

Tidak jarang saluran drainase yang didesain menjadi sebuah jaringan yang besar. dengan kemiringan yang berbagai macam dan memiliki catchment area yang berbeda setiap segmennya. Ini adalah masalah selanjutnya yang sering terjadi. nah aku akan coba mencontohkan skema drainase yang sedikit rumit berdasarkan proyek sebuah bendungan. 

Denah Rencana Jalan dan Drainase Areal Peresmian

jika meninjau pada lokasi tersebut, maka terdapat kumpulan debit yang terkolektif pada beberapa bentuk saluran yang masing - masing memiliki tata guna lahan yang berbeda. namun aku akan lebih fokus pada kombinasi dari debit yang berdasarkan skema. karena saluran ada pada kiri dan kanan jalan, maka jika dibuat pada setiap segmen, saluran drainase akan seperti ini:

Skema Saluran Drainase dengan 4 Section

dari gambar diatas, mari fokus pada section 1, 2, dan 3. terlihat ada 2 garis merah yang merupakan gorong - gorong karena dari section 2 dan 3 ujung aliran harus ditransfer menuju section 1. sehingga pada poin tersebut, aliran pada section 1 akan ditambahkan aliran yang datang dari section 2 dan 3. sehingga debit pada saluran section 1 setelah gorong - gorong tersebut akan menjadi lebih besar. perubahan itu tentunya akan sangat susah jika dihitung dengan model rasional biasa dikombinasikan dengan analisa hidrolika steady flow. ditambah perhitungan dengan nilai tata guna lahan yang berbeda akan menjadi masalah sehingga perhitungan saluran drainase bisa menjadi tidak tepat. 

beberapa drainage engineer hanya akan menambahkan debit terhitung pada masing - masing model pada segmen yang ada namun tentu cara tersebut menjadi kurang tepat. jika ditinjau dari segi hidrolika, aliran yang datang dari gorong - gorong menuju section 1 akan menyebabkan backwater terhadap section 1 sehingga pendekatan dengan steady flow tidak disarankan.

3. Penentuan Nilai Koefisien C (Tutupan Lahan) Bisa Sangat Subyektif

ini adalah bagian yang paling subyektif karena pada metode Rasional, penentuan nilai C akan sangat bervariasi. mengingat tidak ada batasan antara kemiringan tertentu dengan tutupan lahan, dan tentu saja luasannya. sebagai contoh jika aku menggunakan tabel berikut:


tabel diatas adalah koefisien pengaliran yang bisa digunakan dalam analisa metode rasional. kita asumsi pada model 1 dan model 2 dibagian nomor 1 merupakan jalan aspal, maka range koefisien pengaliran sangat bervariasi, selain itu tidak adanya faktor kemiringan lereng menjadi sebuah masalah tersendiri padahal sebagaimana kita tahu pada model A lereng lebih landai daripada model B. pada akhrnya pendekatan subyektiflah yang digunakan dan ini akan mempengaruhi hasil model dan desain yang kita gunakan. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusuri Lembah Shosenkyo, Jungle Track, Air terjun, dan Rope Way

Kawaguchiko, Fuji, dan Momiji

Mengapa Analisa Keruntuhan Bendungan Cirata dan Jatiluhur Begitu Kompleks? Bahkan Bisa Membutuhkan Ratusan Skenario yang Perlu untuk Dimodelkan